Lima Belas Ribu
Keluh adalah napas
Berhembus dari sela-sela papan tombol yang mulai longgar
Lalu dihirup lagi tatkala layar memilih diam
Pada tiga buah jarum
yang berputar
bak gasing yang keluar dari penarik, aku bertaruh
Lima belas ribu
Puas dan cukup adalah
belenggu yang menyamar menjadi syukur
Karena yang terberat adalah mengetahui bahwa sedikit pun
kamu tidak pernah ingin
mundur
Lima belas ribu
Aku bertaruh.
Delapan ke Lima
Lelah dan enggan
menjelma anak kembar
Lahir dari rahim kausalitas
Delapan hingga angka-angka setelah lima
Sempatkan berpesta di
sempitnya tanggal muda,
Lalu menjerit-jerit setelahnya
Apa kabar proyeksi
ruang pribadi?
Sedang bernapas dipatok durasi
Sementara di puncak-puncak gedung
Ada yang tak perlu lelah untuk memeluk jatah
Dalam jumlah yang mereka
sebut lazim
Karena mulut tak pandai mengeja kata ‘zalim’.
Lubang Duka
Pada motor, mobil,
truk, dan gerombalan manusia, berlalu-lalang
Memadati jalan sempit berlubang
Lampu jalan yang tidak juga berubah hijau
Kutemukan duka lama
itu
Terselip di ban motor
Atau mungkin menempel pada kaca spion yang kendor
Ataukah ia sembunyi di balik jok yang baru diganti
Mengapa keramaian
seperti kecoak di kamar mandi
dan suara klakson yang bersahut-sahutan melebur
Membentuk bunyi sirene mobil putih
“Kenapa?”
Sungguh, ratusan buku
tidak membantu merangkai jawab
Kupilih kelakar dan dusta sebagai gantinya.
