Lima Belas Ribu dan Puisi Lainnya

 

Penulis: Nurul Istiqamah


Lima Belas Ribu

Keluh adalah napas
Berhembus dari sela-sela papan tombol yang mulai longgar
Lalu dihirup lagi tatkala layar memilih diam

Pada tiga buah jarum yang berputar
bak gasing yang keluar dari penarik, aku bertaruh
Lima belas ribu

Puas dan cukup adalah belenggu yang menyamar menjadi syukur
Karena yang terberat adalah mengetahui bahwa sedikit pun
kamu tidak pernah ingin mundur

Lima belas ribu
Aku bertaruh.

 

Delapan ke Lima

Lelah dan enggan menjelma anak kembar
Lahir dari rahim kausalitas
Delapan hingga angka-angka setelah lima

Sempatkan berpesta di sempitnya tanggal muda,
Lalu menjerit-jerit setelahnya

Apa kabar proyeksi ruang pribadi?
Sedang bernapas dipatok durasi
Sementara di puncak-puncak gedung
Ada yang tak perlu lelah untuk memeluk jatah

Dalam jumlah yang mereka sebut lazim
Karena mulut tak pandai mengeja kata ‘zalim’.

 

Lubang Duka

Pada motor, mobil, truk, dan gerombalan manusia, berlalu-lalang
Memadati jalan sempit berlubang
Lampu jalan yang tidak juga berubah hijau

Kutemukan duka lama itu
Terselip di ban motor
Atau mungkin menempel pada kaca spion yang kendor
Ataukah ia sembunyi di balik jok yang baru diganti

Mengapa keramaian seperti kecoak di kamar mandi
dan suara klakson yang bersahut-sahutan melebur
Membentuk bunyi sirene mobil putih
“Kenapa?”

Sungguh, ratusan buku tidak membantu merangkai jawab
Kupilih kelakar dan dusta sebagai gantinya.

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama