Di era digital seperti
sekarang, berbicara menjadi semakin mudah. Seseorang dapat menyampaikan
pendapat hanya dengan beberapa ketukan jari. Komentar dapat ditulis dalam
hitungan detik, unggahan dapat dibagikan kepada ratusan bahkan ribuan orang,
dan setiap orang memiliki ruang untuk menyuarakan apa yang ada dalam
pikirannya. Namun, kemudahan berbicara tidak selalu diiringi dengan kemampuan
menjaga adab.
Banyak orang berani
mengemukakan pendapat, tetapi lupa memilih kata. Ada yang bercanda hingga
menyakiti orang lain, ada yang mengkritik dengan nada merendahkan, dan ada pula
yang mencari perhatian dengan cara yang tidak pantas. Akibatnya, ruang- ruang
digital yang seharusnya menjadi tempat berbagi gagasan sering berubah menjadi
tempat saling menyerang dan menjatuhkan. Padahal, jauh sebelum media sosial
hadir, masyarakat Gorontalo telah memiliki cara tersendiri untuk mengajarkan
adab melalui bahasa.
Bahasa Gorontalo bukan
sekadar alat komunikasi. Di dalamnya tersimpan cara orang tua menasihati anak,
cara masyarakat menilai perilaku, dan cara sebuah budaya menjaga tata krama
dalam kehidupan bersama. Menariknya, masyarakat Gorontalo memiliki banyak
istilah khusus untuk menggambarkan perilaku yang dianggap kurang baik.
Istilah-istilah tersebut bukan sekadar label, melainkan bentuk kearifan lokal
yang mengandung teguran, nasihat, dan pelajaran hidup. Melalui kata-kata itu,
generasi muda diajarkan bagaimana seharusnya bersikap terhadap sesama.
Kosakata Adab dalam Bahasa Gorontalo
neneolo—Perilaku yang membuat orang lain merasa kesal, jengkel, atau terganggu — bukan selalu dengan kata kasar, tetapi dengan sesuatu yang mengusik kenyamanan.
Dari istilah ini, kita belajar bahwa tidak semua hal boleh dilakukan hanya karena dianggap lucu atau menyenangkan. Dalam kehidupan bersama, perasaan orang lain tetap perlu diperhatikan. Bercanda boleh, tetapi jangan sampai mengganggu. Akrab boleh, tetapi tetap harus memahami batas.
wetetolo—Berbicara tidak pada tempatnya — ucapannya mungkin tidak selalu salah, tetapi disampaikan pada waktu yang tidak tepat atau dalam situasi yang tidak sesuai.
Dalam kehidupan sehari-hari, wetetolo dapat terlihat ketika seseorang bercanda saat orang lain sedang serius, menyela pembicaraan tanpa sopan santun, atau menuliskan komentar sembarangan di media sosial. Dari sini kita belajar bahwa berbicara bukan hanya soal apa yang dikatakan, tetapi juga kapan dan bagaimana mengatakannya.
kekengolo—Sengaja bertingkah agar menjadi pusat perhatian — melakukan sesuatu bukan karena perlu, melainkan karena ingin dilihat, dipuji, atau dibicarakan orang lain.
Di era media sosial, istilah ini terasa semakin relevan. Tidak sedikit orang yang rela melakukan hal berlebihan demi mendapatkan perhatian. Padahal, perhatian tidak selalu berarti penghargaan. Dikenal banyak orang tidak selalu berarti dihormati banyak orang. Dari kekengolo, generasi muda dapat belajar bahwa nilai diri tidak ditentukan oleh banyaknya perhatian yang diperoleh. Lebih baik menjadi pribadi yang sederhana tetapi bermanfaat daripada terkenal karena perilaku yang tidak pantas.
kureketolo—Asal bicara dan asal bertingkah — ucapan dan perilaku yang tidak terarah serta kurang mempertimbangkan kepantasan. Kureketolo mengingatkan bahwa manusia perlu memiliki kendali diri.
Dalam kehidupan bermasyarakat,
kebebasan tetap membutuhkan batas. Ada tata krama yang perlu dijaga agar
hubungan antarindividu tetap harmonis dan saling menghargai. taingolo Membantah
atau menyangkal perkataan orang lain dengan cara yang kasar, tanpa
memperhatikan adab dalam perbedaan pendapat. Sebenarnya, berbeda pendapat
adalah hal yang wajar. Bahkan sikap kritis sangat diperlukan dalam kehidupan
modern. Namun, cara menyampaikan perbedaan itulah yang menentukan kualitas
seseorang. Taingolo mengajarkan bahwa kebenaran tidak harus disampaikan dengan
kesombongan. Pendapat yang baik dapat kehilangan nilainya jika diucapkan dengan
cara yang menyakitkan.
bulabolo—Ucapan yang kosong, membual, atau tidak memiliki dasar yang jelas — banyak berbicara tetapi sedikit kebenaran yang dapat dipertanggungjawabkan.
Istilah ini terasa sangat relevan dalam kehidupan digital saat ini. Informasi menyebar begitu cepat, tetapi tidak semuanya benar. Banyak orang berbicara seolah-olah mengetahui segala hal, padahal belum memahami persoalan yang sebenarnya. Dari bulabolo, kita belajar bahwa lebih baik berbicara sedikit tetapi benar daripada banyak berbicara tanpa makna.
hutatingolo—Perilaku kasar dan kurang ajar, baik dalam ucapan maupun tindakan — sikap yang telah melampaui batas kesopanan yang dijunjung oleh budaya Gorontalo.
Masyarakat Gorontalo sejak
dahulu tidak hanya menilai seseorang dari kecerdasannya, tetapi juga dari
adabnya. Sepintar apa pun seseorang, jika ucapannya kasar dan perilakunya tidak
menghormati orang lain, maka ia tetap dipandang kurang baik dalam kehidupan
bermasyarakat.
Kekayaan yang Tersimpan dalam Kata
Jika diperhatikan, setiap
istilah tersebut memiliki makna yang berbeda. Neneolo berkaitan dengan perilaku
yang mengganggu. Wetetolo berhubungan dengan berbicara tidak pada tempatnya. Kekengolo
menggambarkan sikap mencari perhatian. Kureketolo menunjukkan perilaku yang
sembarangan. Taingolo berarti membantah dengan kasar. Bulabolo berkaitan dengan
ucapan yang membual. Sementara hutatingolo menggambarkan perilaku yang kurang
ajar.
Perbedaan makna tersebut
menunjukkan betapa kaya bahasa Gorontalo dalam membaca perilaku manusia.
Masyarakat Gorontalo tidak menggunakan satu kata untuk semua bentuk perilaku
buruk. Setiap sikap memiliki nama dan nuansanya sendiri. Di balik kekayaan
kosakata itu tersimpan cara masyarakat memahami karakter manusia dengan sangat
teliti.
Sayangnya, banyak generasi
muda mulai jarang mengenal istilah-istilah seperti ini. Sebagian lebih akrab
dengan bahasa gaul dan istilah yang berasal dari media sosial. Padahal, di dalam
kata-kata daerah tersebut tersimpan pelajaran yang masih sangat relevan hingga
hari ini. Menjaga bahasa daerah bukan berarti menolak perkembangan zaman. Anak
muda tetap dapat hidup modern, menggunakan teknologi, dan bergaul dengan dunia
yang lebih luas. Namun, akar budaya tidak boleh hilang. Justru melalui bahasa
daerah, generasi muda dapat mengenali identitasnya sekaligus memahami
nilai-nilai yang diwariskan oleh leluhurnya.
Pada akhirnya, bahasa
Gorontalo bukan hanya alat komunikasi. Ia adalah cermin yang memperlihatkan
bagaimana masyarakat memandang perilaku manusia. Di dalamnya terdapat teguran,
nasihat, dan harapan agar setiap orang hidup dengan sopan, tertib, dan saling
menghargai. Jika generasi muda masih mau mengenal dan menggunakan bahasa daerahnya,
maka kearifan lokal tidak akan hilang. Bahasa Gorontalo akan tetap hidup, bukan
hanya sebagai warisan budaya, tetapi juga sebagai penjaga adab di tengah
derasnya arus digital.
