Taman kota sering kali menjadi ruang paling sederhana untuk menepi di tengah padatnya aktivitas. Di akhir pekan, orang datang silih berganti. Anak-anak berlari, pasangan duduk berbincang, dan pedagang kecil menggantungkan harapan pada ramainya pengunjung. Di tempat seperti itulah, lelah seolah menemukan jedanya.
Taman kota juga memiliki peran yang sangat krusial, bukan sekadar “pajangan” hijau, melainkan sebagai ekosistem pendukung bagi penduduk kota. Kenyamanan itu sering hadir tanpa banyak dipikirkan. Bangku yang bersih, jalan setapak yang rapi, dan hamparan ruang asri terasa seperti sesuatu yang “sudah semestinya ada”. Padahal, ada kerja-kerja sunyi yang berlangsung sebelum taman itu ramai oleh pengunjung. Bayangkan apabila Taman Kota dibiarkan kotor, kumuh, dan tidak terawat. Tumpukan sampah serta sisa aktivitas malam tentu akan merusak suasana bagi siapa saja yang datang. Taman tidak hanya akan kehilangan jati dirinya sebagai ruang publik, tetapi juga tidak lagi menjadi tempat untuk pulang sejenak, melainkan area yang lebih sering dihindari.
Di balik keasrian itulah, ada tangan-tangan di balik layar yang bekerja tanpa sorotan. Mereka datang saat sebagian besar penduduk kota masih terlelap, membersihkan sampah yang ditinggalkan, dan memastikan pagi tetap layak disambut. Salah satunya adalah Ibu Siti dan Ibu Nur.
Pukul 05.30 pagi, dalam cahaya subuh yang masih temaram, mereka menyusuri sudut-sudut Taman Kota Gorontalo. Berbekal senter kecil dan sapu lidi di tangan, Ibu Siti dan Ibu Nur mengumpulkan dedaunan yang berguguran, sisa gelas kopi, plastik jajanan, hingga puntung rokok yang tercecer sembarangan. Meski tampak sederhana, dari peluh merekalah Taman Kota Gorontalo dapat dinikmati setiap hari. Ibu Siti dan Ibu Nur bekerja kurang lebih 60 jam dalam sebulan. Dari waktu kerja tersebut, mereka menerima upah sebesar Rp750.000,00 per bulan. Angka itu terasa jauh dari kata cukup, bahkan untuk memenuhi kebutuhan dasar sehari-hari di rumah pun masih terasa kurang. Oleh karena itu, mencari pekerjaan tambahan menjadi satu-satunya pilihan untuk mencukupi kebutuhan hidup mereka.
“Ini kan Rp750.000, tidak tahu mau cukup atau tidak, dicukup-cukupkan saja,” ujar Bu Siti.
Dalam pekerjaannya, Ibu Siti dan Ibu Nur tidak sendiri. Suami mereka kerap turut membantu tanpa upah. Bagi mereka, menyelesaikan pekerjaan lebih cepat berarti membuka waktu untuk mencari penghasilan tambahan. Sebab, pekerjaan sebagai petugas kebersihan bukan satu-satunya sumber nafkah bagi mereka. Di luar rutinitas pagi, Ibu Siti juga bekerja sebagai babysitter. Peran ganda ini dijalaninya hampir tanpa jeda. Hari-harinya berjalan tanpa ruang istirahat yang cukup. “Gajinya sering dijanjikan akan naik, tetapi sampai sekarang belum direalisasikan,” ucap Ibu Siti. Ia berharap gajinya dapat dinaikkan agar mampu memenuhi kebutuhan keluarganya.
Situasi ini memperlihatkan kenyataan yang kerap luput dari perhatian. Pekerja seperti Ibu Siti dan Ibu Nur berada di antara dua beban: kerja publik yang tidak selalu dihargai secara layak dan kerja domestik yang sering kali tidak dianggap sebagai “pekerjaan”. Sebagai buruh sekaligus ibu rumah tangga, mereka menjalani keduanya tanpa banyak pilihan. Dalam beberapa kebijakan, pekerja sektor informal seperti petugas kebersihan sering kali belum mendapatkan perlindungan yang optimal. Padahal, secara prinsip, standar upah minimum provinsi (UMP) hadir untuk menjamin pekerja memperoleh penghasilan yang layak. Namun dalam praktiknya, pekerja di sektor ini masih berada di pinggiran perhatian. Tanpa hari libur yang jelas, rutinitas selama sebulan penuh menjadi bukti nyata bahwa profesi seperti yang mereka jalani belum mendapatkan apresiasi yang layak.
Dedikasi luar biasa yang mereka berikan justru berbanding terbalik dengan pengakuan sosial yang mereka terima. Ada kesan bahwa pekerjaan ini bisa terus berjalan tanpa perlu diimbangi dengan perhatian yang setara. Padahal, dampak dari pekerjaan tersebut sangat nyata. Pagi itu, Taman Kota tampak bersih dan tertata. Sulit membayangkan bahwa hanya beberapa jam sebelumnya, kawasan tersebut dipenuhi aktivitas malam. Para pedagang kopi dan jajanan meninggalkan jejak yang cukup ramai, namun semuanya seolah lenyap ketika pagi datang.
Seorang pengunjung, Kak Ayu, mengaku sangat mengapresiasi kerja para petugas kebersihan. Menurutnya, kebersihan Taman Kota pada pagi hari menjadi hal yang menenangkan pikiran, terutama setelah melihat ramainya suasana pada malam sebelumnya. Saat fajar tiba, keadaan Taman Kota sudah kembali bersih.
“Paginya sudah bersih lagi. Kalau mereka tidak kerja sehari saja, pasti langsung kelihatan kotornya,” kata Kak Ayu secara lugas.
Pernyataan ini sederhana, tetapi menyimpan makna besar. Ada pekerjaan yang sering dianggap sepele, padahal dampaknya sangat nyata. Baginya, peran petugas kebersihan sangatlah penting. Ia menyadari bahwa tanpa dedikasi mereka yang bekerja sejak dini hari, mustahil masyarakat dapat melihat lingkungan sekitar tampil bersih, tertata, dan memberikan kesejukan bagi siapa pun yang melintas. Kak Ayu juga merasa prihatin dengan kondisi para petugas kebersihan yang upahnya tidak sebanding dengan kenyamanan yang dirasakan pengunjung. Ia berharap pemerintah dapat lebih memperhatikan kesejahteraan mereka.
Sering kali pekerjaan petugas kebersihan dianggap ringan karena hanya berlangsung dua jam per hari. Namun, persepsi ini menyesatkan. Pekerjaan tersebut menuntut konsistensi harian, ketahanan fisik, serta tanggung jawab untuk menjaga ruang publik tetap layak. Dalam banyak kasus, buruh sapu juga bekerja tanpa perlindungan kerja yang memadai, seperti asuransi, jaminan kesehatan, dan kepastian status kerja. Di sisi lain, Kak Ayu juga menyinggung peran masyarakat. Menjaga kebersihan, menurutnya, tidak hanya menjadi tanggung jawab petugas kebersihan, tetapi juga tanggung jawab semua orang yang menikmati fasilitas tersebut. Tidak membuang sampah sembarangan menjadi langkah sederhana yang bisa dilakukan siapa saja. Pagi terus beranjak. Matahari mulai naik, dan Taman Kota perlahan dipenuhi aktivitas. Anak-anak datang bermain, beberapa warga mulai berolahraga, dan pedagang kembali menata dagangan mereka. Di tengah itu semua, Ibu Siti dan Ibu Nur telah menyelesaikan pekerjaannya. Mereka datang saat kota masih diam dan pergi saat kota mulai bergerak. Tanpa sorotan, tanpa banyak suara. Namun dari sapu lidi di tangan mereka, ada satu hal yang telah mereka pastikan: setiap orang dapat menikmati pagi yang bersih dan nyaman.
Bagi banyak orang, membersihkan jalanan hanyalah pekerjaan menyingkirkan kotoran. Namun, jika diperhatikan lebih lama, kerja yang tampak sederhana itu pada akhirnya menyimpan arti yang jauh lebih besar. Ada kisah yang tidak tertulis di sana: tentang ketekunan yang diulang tanpa henti, tentang napas yang berjuang untuk bertahan hidup, dan tentang serpihan harapan yang masih terus disapu setiap pagi, seolah esok selalu menjanjikan sesuatu yang lebih baik.
Dari kisah Ibu Siti dan Ibu Nur, petugas kebersihan di Taman Kota Gorontalo, dapat diketahui bahwa ada realitas pahit di balik asrinya ruang publik yang kita nikmati. Meskipun mereka memegang peran yang cukup krusial dalam menjaga kenyamanan dan kebersihan Taman Kota, upah yang mereka terima masih jauh dari standar layak dan belum disertai jaminan perlindungan yang memadai. Dari sini pula, diharapkan muncul kesadaran dan kepedulian masyarakat terkait pentingnya menjaga kebersihan lingkungan sekitar. Pada akhirnya, di balik setiap sudut taman yang bersih, terdapat harapan dan perjuangan hidup para pekerja yang layak mendapatkan penghormatan serta jaminan hidup yang lebih manusiawi.
Tags
feature
