Thomas Shelby yang menjadi
tokoh penting dalam serial Peaky Blinders, bukan hanya menarik karena
ketenangannya dalam menghadapi berbagai hal seperti kekerasan, bisnis gelap,
atau dinamika yang muncul di dalam ranah keluarganya. Ia menjadi menarik dibahas
karena memiliki sisi yang lebih rumit. Misal, ketika kontradiksi yang terjadi
antara apa yang ia perjuangkan di ruang publik dan apa yang ia lakukan di ruang
privat.
Dalam dirinya, kita
melihat seorang tokoh yang mampu berdiri di dua kutub yang saling bertentangan.
Di satu sisi, ia tampil sebagai politisi yang dengan lantang berbicara atas
nama buruh, keresahan kelas pekerja, dan nasib orang-orang kecil. Namun di sisi
lain, ia tetap menjalankan praktik bisnisnya yang kotor, manipulatif, bahkan
tidak jarang mengeksploitasi orang-orang yang berada di bawah kendalinya.
Thomas Shelby dan Kontradiksi Kekuasaan
Pada musim keempat serial
Peaky Blinders, Thomas Shelby mulai bergerak dari dunia bisnis kotor menuju
arena politik. Peralihannya dari pebisnis gelap menjadi politisi memperlihatkan
bahwa kekuasaan tidak selalu berpindah dari kejahatan menuju kebaikan,
melainkan sering kali hanya berganti pakaian saja untuk menutupi apa yang sudah
kotor. Kekuasaan yang semula bekerja melalui jalanan, kekerasan, dan bisnis
ilegal, kemudian menemukan bentuk barunya dalam hal-hal yang berbau politik.
seperti pidato, jabatan, partai, dan parlemen. Dengan kata lain, Thomas Shelby
tidak benar-benar meninggalkan watak lamanya. Ia hanya menemukan panggung baru
untuk memainkan kekuasaan dengan cara yang lebih halus saja.
Hal yang paling menarik
dari Thomas Shelby bukan semata-mata bagaimana ia membangun bisnis atau
mempertahankan kerajaannya, melainkan bagaimana ia memelihara kepribadian
politik yang saling bertentangan. Sebagai pebisnis, ia tampak sangat kapitalis
dengan beragam cara yang dilakukan. Ia menghitung mengendalikan para buruh,
memanfaatkan jaringan kekuasaan, dan menjadikan orang lain sebagai bagian dari
mesin kepentingannya. Namun sebagai politisi, ia mampu tampil sebagai sosok
yang sangat peduli terhadap buruh, seolah-olah menjadi suara bagi mereka yang tertindas
oleh sistem industri dengan pidatonya yang bergema di ruang parlemen. Di titik
inilah Thomas Shelby menjadi simbol dari politik dengan dua wajah. Satu wajah
digunakannya untuk mengumpulkan keuntungan, sementara wajah lainnya digunakan
untuk mengumpulkan simpati masyarakat.
Fenomena semacam ini
sebenarnya tidak hanya hidup dalam dunia fiksi saja. Dalam kehidupan politik
nyata pun ini ada, terutama di dalam negeri ini, kita kerap menyaksikan elite
yang memainkan peran serupa. Seolah-olah mereka tampil sebagai pembela rakyat
yang sangat frontal, tetapi kebijakannya justru menyulitkan rakyat. Mereka
berbicara tentang kemiskinan, tetapi hidup dari struktur yang melanggengkan
ketimpangan dan kecurangan. Mereka mengutuk ketidakadilan di depan kamera,
tetapi ikut menikmati keuntungan dari sistem yang tidak adil itu sendiri.
Politik, dalam situasi seperti ini, tidak lagi menjadi ruang untuk memperjuangkan
nilai-nilai baik, melainkan berubah menjadi sebagai panggung pertunjukan moral.
Panggung Depan Elite, Skenario Gelap di Balik Layar
Saya teringat pada sebuah
diskusi bersama seorang kawan. Ia pernah bercerita tentang percakapannya dengan
salah satu tokoh politik ternama di tanah air. Dalam cerita itu, sang politisi secara
tidak sadar memberitahukan bahwa dirinya telah melakukan sebuah manuver yang
sangat menarik sekaligus mengganggu secara moral. Dalam diskusi tersebut,
secara tidak sadar Ia memberitahukan bahwa telah memberikan dana kepada sebuah
kelompok untuk menyuarakan isu penting di daerah. Namun pada saat yang sama, di
media sosial, ia tampil sebagai sosok yang seolah-olah paling menentang gerakan
kelompok tersebut. Saya menyadari bahwa ada hal yang ia mainkan dalam konflik
yang dibuat olehnya sendiri. Seakan-akan ada bom waktu yang disembunyikannya
dan akan meledak pada waktu yang tepat. Melihat gerak geriknya, di depan
publik, ia layaknya menjadi lawan. Namun, di belakang layar, ia justru menjadi
penyokong dari hal yang dikritisi olehnya. Ia menciptakan konflik, lalu tampil
sebagai orang yang menanggapi konflik itu. Bagaikan ikut membangun api, lalu
muncul seakan-akan sebagai pemadam apinya.
Praktik seperti ini
sejalan dengan teori dramaturgi Erving Goffman (1959), terutama tentang
panggung depan dan panggung belakang (Front stage, Back Stage). Dalam kehidupan
sosial, seseorang sering kali menampilkan citra tertentu di hadapan publik,
sementara identitas dan kepentingan yang sesungguhnya bekerja di ruang yang
tidak terlihat. Panggung depan adalah tempat seseorang membangun kesan,
memainkan peran, dan mengatur citra. Sementara panggung belakang digunakan sebagai
tempat untuk menjalankan kepentingan aslinya serta strategi manipulasi disusunnya.
Dalam konteks politik,
elite dapat tampil sebagai pembela rakyat di panggung depan, tetapi di panggung
belakang mereka justru mengatur skenario agar rakyat tetap menjadi objek
permainan kekuasaan. Di sinilah politik menjadi sangat berbahaya. Sebab yang
dihadapi masyarakat bukan lagi sekadar kebohongan biasa, melainkan kebohongan
yang disusun seperti pertunjukan. Rakyat dibuat percaya bahwa ada pertentangan
yang nyata, padahal sebagian pertentangan itu mungkin sedang dikendalikan oleh
tangan yang sama. Kelompok tertentu dibiayai untuk bersuara, kelompok lain
digerakkan untuk menolak, sementara elite berdiri di tengah sebagai pengatur
arus. Pada akhirnya, masyarakat dibuat sibuk memperdebatkan permukaan,
sementara inti permainan tetap berada di tangan mereka yang memiliki modal, jaringan,
dan akses kekuasaan.
Politik Dua Wajah dan Rakyat yang Dikendalikan
Fenomena ini juga dapat
dibaca melalui gagasan hegemoni Antonio Gramsci (1971) yang menyatakan bahwa kekuasaan
tidak selalu bekerja dengan paksaan. Ia dapat bekerja melalui persetujuan,
citra, wacana, dan pengendalian kesadaran. Elite tidak perlu terus-menerus
membungkam rakyat secara kasar. Cukup dengan mengatur isu, membiayai gerakan
tertentu, memproduksi opini, lalu mengarahkan kemarahan publik ke tempat yang
mereka kehendaki. Dengan cara itu, masyarakat merasa sedang melawan, padahal
perlawanannya sudah diberi batas. Mereka merasa sedang bergerak bebas, padahal
arah geraknya telah disusun sejak awal.
Thomas Shelby menjadi
relevan karena ia memperlihatkan bahwa politik bukan hanya soal benar dan
salah, melainkan juga soal kemampuan memainkan kontradiksi. Ia bisa berbicara
seperti sosialis, tetapi di sisi lain berpikir seperti kapitalis. Ia bisa
berdiri bersama buruh, tetapi tetap menghitung mereka sebagai bagian dari mesin
kekuasaan yang bisa dikendalikan. Ia bisa terlihat sebagai penyelamat, padahal
ia sendiri adalah bagian dari sistem yang menciptakan rasa tidak selamat dari
hal yang berkaitan dengannya. Karakter semacam ini terasa sensitif ketika
dibicarakan karena terlalu dekat dengan kenyataan politik kita hari ini. Banyak
elite politik di negeri ini seakan belajar dari pola yang sama. Mereka tidak
harus benar-benar berpihak kepada rakyat; mereka hanya perlu terlihat berpihak.
Mereka tidak harus menyelesaikan masalah; mereka cukup hadir dalam masalah itu,
mengomentarinya, lalu membangun citra sebagai tokoh yang peduli. Mereka tidak
perlu menghentikan eksploitasi; mereka cukup mengucapkan kata “keadilan”
berkali-kali sampai publik lupa untuk melihat dari mana kekayaan dan kekuasaan
mereka berasal.
Seorang Thomas Shelby mengingatkan kita bahwa tidak semua orang yang berbicara tentang rakyat benar-benar berpihak kepada rakyat. Tidak semua orang yang mengutuk ketidakadilan benar-benar ingin menghapus ketidakadilan. Kadang-kadang, mereka hanya sedang menjaga agar ketidakadilan tetap hidup, tetapi dengan wajah yang lebih bisa diterima. Politik dua wajah seperti ini adalah bentuk paling licin yang menjalar di tubuh kekuasaan. Ia tidak datang dengan teriakan, tetapi dengan senyum senyap yang menyeramkan. Ia tidak selalu menindas secara terang-terangan, tetapi membungkus kepentingannya dengan bahasa yang lebih halus. Ia tidak membunuh perlawanan secara langsung, tetapi memeliharanya dalam kandang yang dapat dikendalikan. Di titik inilah masyarakat harus lebih waspada. Sebab musuh politik yang paling berbahaya bukan hanya mereka yang terang-terangan menindas, tetapi juga mereka yang berpura-pura membela, sambil diam-diam mengatur agar penindasan tetap berjalan.
