SETELAH MALAM YANG PANJANG: MEMBACA MAKNA SUBUH DALAM ALBUM KEMBARA JIWA

 

Penulis: Wahyudistira Moki


            Posisi terkerdil dalam cara pandang seorang muslim adalah ketika ia memaknai subuh hanya sebagai penanda awal hari saja, seolah-olah waktu itu hanyalah sekadar sebuah gerbang untuk memulai aktivitas hidup. Kesadaran tersebut perlahan muncul ketika saya mulai memahami bahwa subuh menyimpan makna yang jauh lebih dalam daripada sekadar penanda waktu salat atau sebagai permulaan pagi saja. Di dalamnya terdapat sebuah ruang batin yang mengindikasikan makna sunyi, hening, dan penuh dengan berbagai kemungkinan; sebuah ruang yang tidak hanya berkaitan dengan pergantian waktu saja, tetapi juga bagaimana cara manusia coba membaca kembali dirinya, hidupnya, dan arah perjalanan jiwa melalui kondisi tersebut. Kesadaran inilah yang kemudian membawa saya untuk menginterpretasikan mengapa si penulis memilih frasa “Subuh” sebagai judul pada lagu ini, serta mengapa lagu tersebut ditempatkan pada bagian akhir-pertengahan klimaks dalam album Kembara Jiwa karya Braga MGNDW.

            Secara tidak kebetulan dan bukan tanpa alasan judul tersebut dipilih oleh si penulis. Ketika membaca lirik lagu “Subuh” kita tidak hanya langsung dihadapkan dengan maknanya secara umum saja. Misalnya ia dipahami sebagai waktu paling awal pada proses aktivitas kehidupan manusia, di mana seorang muslim bangun untuk menunaikan salat, lalu bersiap memasuki kehidupan dunia selama sehari penuh. Namun, dalam lagu ini, pengartian subuh tidak berhenti hanya sebagai penanda waktu saja. Maknanya justru melejit dan menjelma menjadi wadah perenungan, tempat manusia sejenak berhenti dari kebisingan dunia untuk melihat dan merenungi kembali dirinya secara lebih jernih dan mendalam.

            Makna tersebut tampak dari cara lagu ini mempertemukan dua keadaan batin manusia. Pada satu sisi, subuh menjadi waktu bagi seseorang yang hendak memulai hari. Ia membawa doa, harapan, dan kemungkinan baru setelah hari sebelumnya berlalu. Namun, pada sisi lain, subuh juga dapat menjadi waktu bagi seseorang yang baru saja menyelesaikan perjalanan panjang. Barangkali ia baru pulang dari malam yang berat. Barangkali ia baru saja melewati kegelisahan yang tidak sanggup ia jelaskan kepada siapa pun. Barangkali ia baru selesai bertengkar dengan pikirannya sendiri, menahan rindu yang tidak menemukan alamat, atau menyimpan luka yang tidak sempat diberi sebuah nama.

            Dari dua kemungkinan itu, subuh dalam lagu ini terasa begitu dekat dengan pengalaman manusia. Ia tidak hanya menjadi pembatas antara malam dan pagi saja, tetapi juga menjadi batas antara rasa gelisah dan harapan yang memutar di dalam kepala, antara kehilangan dan kemungkinan untuk pulang ke unsur yang pasti, antara kelelahan dan kesempatan untuk memperbaiki langkah hidup yang mulai tertatih-tatih. Subuh adalah waktu ketika manusia seakan diberi izin untuk berhenti tanpa harus merasa bahwa ia gagal. Sebaliknya waktu tersebut menjadi ruang agar dirinya boleh berhenti dan diam sejenak, boleh mengakui lelah yang dirasakannya, boleh menunduk sementara waktu, serta boleh bertanya kembali tentang apa saja yang telah ia lalui dan apa saja yang masih ia bawa sekadar bertanya ke mana hidupnya hendak dibawa setelah ini.

            Dalam konteks inilah subuh dapat dipahami sebagai ruang muhasabah diri. Muhasabah bukan sekadar mengingat kesalahan masa lalu saja, apalagi hanya menghitung dosa seperti seseorang sedang membuka daftar utang hidupnya sendiri. Muhasabah adalah cara manusia memandang hidup secara lebih utuh. Ia melihat kembali langkah-langkahnya, pilihan-pilihannya, luka-lukanya, apa keinginannya, dan keterbatasan hidupnya. Melalui muhasabah, manusia tidak hanya bertanya tentang apa yang telah ia capai, tetapi juga tentang apa yang telah hilang dari dirinya selama ia berusaha mencapai sesuatu.

Ruang Kesadaran Diri dan Konsep Spiritualitas di Dalamnya

            Lagu “Subuh” membawa pendengar ke wilayah perenungan semacam itu. Ia tidak berteriak. Ia tidak memaksa manusia menemukan jawaban besar secara tiba-tiba. Ia hanya membuka ruang hening agar seseorang dapat berhadapan dengan dirinya sendiri. Sebab, ada hal-hal dalam hidup yang memang baru tampak ketika dunia menjadi tenang. Subuh menjadi simbol yang kuat karena ia berada di antara gelap dan terang. Dalam keadaan itulah manusia sering kali lebih jujur terhadap dirinya sendiri. Ketika dunia belum ramai, manusia tidak punya terlalu banyak alasan untuk bersembunyi dari egonya. Sebab ia sedang berhadapan dengan kondisi sunyi, dan sunyi kerap menjadi cermin yang paling sulit untuk ditipu. Di hadapan sunyi, manusia dapat melihat dirinya tanpa terlalu banyak topeng yang mengganjal kejujurannya. Dari sini, lagu “Subuh” dapat dilihat sebagai sebuah lagu yang memabahas tentang kesadaran eksistensial manusia. Ia mengingatkan kita pada gagasan Jean-Paul Sartre tentang manusia yang hadir ke dunia tanpa makna yang selesai sejak awal.

            Dalam pandangan Sartre, manusia terlebih dahulu ada, lalu membentuk dirinya melalui tindakan, dan tanggung jawab yang ia pilih sendiri. Eksistensi mendahului esensi. Artinya, manusia tidak lahir sebagai makhluk yang sudah selesai, melainkan sebagai makhluk yang terus berubah dan terbentuk. Ia dibentuk oleh pengalaman, luka, harapan, penyesalan, keputusan, kegagalan, dan keberanian untuk terus melanjutkan hidup. Jika dibaca melalui kacamata itu, lagu “Subuh” menghadirkan manusia yang sedang menyadari keberadaan dirinya. Tokoh dalam lirik lagu ini tidak tampak sedang merayakan hidup dengan suara yang lantang saja. Ia lebih seperti seseorang yang berbicara pelan kepada dirinya sendiri. Ia berada dalam suasana sunyi, tetapi sunyi itu bukan merupakan tanda kekosongan. Justru dalam keheningan itulah ia mulai memahami hidupnya. Ia mulai bertanya tentang perjalanan yang telah ditempuh, kepingan-kepingan rindu yang masih tersisa, berbagai luka yang belum selesai, dan tempat pulang yang mungkin selama ini ia cari tanpa benar-benar ia sadari.

            Namun, membaca “Subuh” hanya melalui eksistensialisme Sartre juga belum cukup. Sebab, lagu ini tidak berhenti pada manusia sebagai makhluk bebas yang sendirian menentukan makna hidupnya saja. Di dalamnya juga terasa dimensi spiritual yang membuat perenungan tersebut lebih hangat dan lebih dekat dengan pengalaman seorang hamba. Manusia dalam lagu ini bukan hanya sebagai subjek yang bebas memilih arah hidupnya, tetapi juga makhluk yang sadar bahwa kebebasannya memiliki batasan. Ia tidak selalu mampu menyelesaikan seluruh kekacauan hidupnya hanya dengan mengandalkan dirinya sendiri. Di titik ini, “Subuh” mempertemukan kesadaran eksistensial dengan kesadaran spiritual. Jika eksistensialisme mengajak manusia bertanggung jawab atas hidupnya, maka konsep spiritualitas mengingatkan bahwa tanggung jawab itu tidak boleh membuat manusia merasa menjadi pusat dari segalanya. Manusia memang harus memilih jalan akan makna hidupnya, tetapi ia juga perlu sadar bahwa tidak semua hal dapat ia pahami dan dikendalikan.

            Sebagai seorang hamba, manusia tidak hanya diminta untuk terus bergerak menjalani hidup saja. Tapi Ia juga perlu sesekali memberi jeda untuk memastikan apakah jalan yang ditempuhnya masih mengarah kepada sesuatu yang benar atau malah sebaliknya. Lagu “Subuh” menghadirkan kesadaran semacam itu. Ia memperlihatkan bahwa perjalanan hidup tidak selalu tentang bergerak cepat, mencapai sesuatu, atau terus melangkah tanpa pernah berhenti. Ada saat ketika hidup justru menuntut keberanian untuk berhenti. Bukan berhenti karena menyerah, tetapi berhenti untuk menilai kembali arah. Bukan diam karena kalah, tetapi diam untuk mendengar sesuatu yang selama ini tenggelam oleh riuhnya kehidupan dunia. Dalam suasana itulah subuh menjadi tanda kesempatan. Ia memberi isyarat bahwa manusia masih mungkin memperbaiki langkahnya. Subuh di sini menjadi semacam jeda belas kasih: waktu kecil yang diberikan kepada manusia sebelum ia kembali masuk ke dalam kerasnya dunia.

Ibu, Ingatan, dan Jalan Pulang

            Mendengarkan lagu “Subuh” seperti diajak berjalan menyusuri lorong waktu yang sunyi. Di tengah alunan nadanya yang menenangkan, ada satu kata yang mendadak membuat dada terasa sesak sekaligus berubah menjadi hangat, yaitu ketika diksi ibu digunakan dalam lirik ini. Namun, di dalam ruang lagu ini, kata "ibu" tak sedang bicara tentang sosok biologis semata. Ia telah menjadi sesuatu yang lebih besar dan menjelma sebagai simbol yang berbicara tentang asal-usul, perlindungan, dan kompas batin yang mengarahkan manusia untuk kembali ke asalnya saat bertemu dengan arah hidup yang tidak pasti. Hidup sering kali menjadi perjalanan yang teramat panjang dan membingungkan. Kita kerap melangkah terlalu jauh, mengejar mimpi yang entah di mana ujungnya.

            Dalam proses kelana itu, tidak jarang kita tersesat di dalam ambisi yang kita pilih sendiri, babak belur dihantam keadaan, atau perlahan runtuh karena terlalu lama memikul beban sendirian tanpa berani berbagi kepada orang lain. Lalu, di saat-saat paling rapuh itu, ingatan tentang ibu tiba-tiba hadir tanpa mengetuk pintu. Ia datang bukan untuk menghakimi, melainkan membawa kita kembali pada definisi penerimaan yang paling tulus. Sejauh apa pun kaki telah melangkah, ingatan itu berbisik lembut, mengingatkan bahwa ada sebuah mata air kasih yang pernah membentuk jiwa kita. Melalui lagu ini, kita tidak hanya diajak bergerak maju mencari identitas diri, tetapi justru melangkah mundur, menengok kembali dari mana kita berasal. Kita dipaksa untuk bertanya pada diri sendiri mengenai di mana kita pertama kali belajar merasa aman dan di mana pula tempat batin yang pernah membuat kita merasa benar-benar merasakan pulang.

            Lagu "Subuh" dalam hal ini pun tumbuh menjadi lebih dari sekadar perenungan manusia terhadap diri sendiri. Ia menjelma menjadi suara hati setiap manusia yang merindukan ketenangan paling mendasar. Ketika realitas di luar sana terasa begitu keras, rumit, dan penuh dengan ketidakpastian, kita selalu butuh tempat untuk berlabuh. Dan sering kali, tempat itu menyelamatkan kita dari kehancuran ego kita sendiri, seperti hadir lewat ketulusan doa seorang ibu yang sunyi, atau perasaan hangat bahwa di tengah dunia yang melelahkan ini, kita masih punya tempat yang paling aman untuk dicintai tanpa syarat.

Subuh sebagai Titik Jeda dalam Proses Pengembaraan

            Melihat pola yang disusun sedemikian rupa melalui kesepuluh lagu yang ada di dalamnya, demikian album ini bergerak melalui berbagai pengalaman batin tentang manusia yang berbicara mengenai perjalanan, luka, harapan, nasib, takdir, kesedihan, pengembaraan, hingga pencarian tempat pulang yang menutup sinkronitas di dalam album ini. Setelah manusia digambarkan berjalan jauh yang mengarahkan dirinya berhadapan dengan sebuah nasib, dan nasib tersebut menciptakan emosi kesedihan yang harus ia pikul sendiri, hingga terus mengembara menjalani nasib dan takdir yang ditetapkan kepadanya, pada akhirnya “Subuh” hadir sebagai sebuah ruang jeda baginya. Ia berada dalam posisi yang strategis di saat manusia tidak lagi hanya menatap dunia dari luar saja, tetapi mulai menoleh ke dalam dirinya sendiri. Dengan kata lain, “Subuh” menjadi titik ketika perjalanan yang semula tampak sebagai perjalanan fisik perlahan berubah menjadi perjalanan batin.

            Kembara tidak lagi hanya berarti berjalan melewati dimensi ruang yang berbau fisik saja, tetapi juga melewati ruang yang berbentuk batin. Di dalam lagu ini, manusia seolah-olah sampai pada kesadaran bahwa perjalanan yang paling jauh tidak selalu bercerita tentang perjalanan menuju tempat yang lain, melainkan perjalanan untuk kembali mengenali dirinya sendiri. Sederhananya  lagu ini hanya sekadar membuka ruang agar pendengar dapat masuk ke dalam dirinya sendiri dan merenungkan kembali apa yang selama ini ia bawa di dalam kehidupan yang berat dan panjang ini.

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama